Makalah Dasar-dasar THP
Perubahan Terhadap Penurunan Mutu
Pada Ikan Segar (Setelah Ikan Mati)
BAB I
1.1 Pendahuluan
Ikan adalah segala jenis organisme
yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkunagn
perairan. (UU No.45 Tahun 2009)
Pengertian ikan meliputi :
1. Ikan
bersirip (pisces)
2. Udang,
rajungan, kepiting dan sebangsanya. (crustacea);
3. Kerang,
tiram, cumi-cumi, gurita, siput, dan sebangsanya. (mollusca);
4. Ubur-ubur
dan sebangsanya (coelenterata);
5. Teripang,
bulu babi, dan sebangsanya. (echinodermata);
6. Kodok dan
sebangsanya. (amphibia);
7. Buaya,
penyu, kura-kura, biawak, ular air, dan sebangsanya. (reptilia);
8. Paus,
lumba-lumba, pesut, duyung, dan sebangsanya. (mamalia);
9. Rumput
laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (algae);
1. Biota
perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tersebut
diatas, termasuk ikan.
diatas, termasuk ikan.
Ikan dapat sebagai bahan baku pangan yang memiliki
kandungan protein yang cukup tinggi dengan mengandung sejumlah asam amino
essensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Ikan sebagai sumber pangan
memiliki nilai biologis yang cukup baik yakni 90 %, ikan mempunyai jaringan
pengikat yang relative lebih sedikit sehingga mudah untuk dicerna, ikan sebagai
sumber pangan yang relative mudah untuk diperoleh dan harga yang lebih murah.
Ikan selain sebagai sumber pangan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku
obat-obatan, pakan ternak, pupuk organik, dan sebagainya.
Kandungan Gizi ikan
ü Omega-3
ü Protein
ü Vitamin A,
D, B6, B12
ü Mineral
(zat besi, yodium, selenium, seng, fluor)
ü Bio-Active
ü Asam lemak
tak jenuh
BAB
II
2.1 Isi Makalah
A.Proses Penurunan Mutu
Secara umum ikan diperdagangkan dalam keadaan sudah mati dan seringkali dalam keadaan masih hidup. Pada kondisi hidup tentu saja ikan dapat diperdagangkan dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya dalam kondisi mati ikan akan segera mengalami kemunduran mutu.Segera setelah ikan mati, maka akan terjadi perubahan-perubahan yang mengarah kepada terjadinya pembusukan. Perubahan-perubahan tersebut terutama disebabkan adanya aktivitas enzim, kimiawi dan bakteri.
Enzim yang terkandung dalam tubuh ikan akan merombak bagian-bagian tubuh ikan dan mengakibatkan perubahan rasa (flavor), bau (odor), rupa (appearance) dan tekstur (texture).
Aktivitas kimiawi adalah terjadinya oksidasi lemak daging
oleh oksigen. Oksigen yang terkandung dalam udara mengoksida lemak daging ikan
dan menimbulkan bau tengik (rancid) Perubahan yang diakibatkan oleh bakteri
dipicu oleh terjadinya kerusakan komponen-komponen dalam tubuh ikan oleh
aktivitas enzim dan aktivitas kimia. Aktivitas kimia menghasilkan komponen yang
yang lebih sederhana. Kondisi ini lebih disukai bakteri sehingga memicu
pertumbuhan bakteri pada tubuh ikan. Dalam kenyataannya proses kemunduran mutu
berlangsung sangat kompleks. Satu dengan lainnya saling kait mengait, dan
bekerja secara simultan. Untuk mencegah terjadinya kerusakan secara cepat, maka
harus selalu dihindarkan terjadinya ketiga aktivitas secara bersamaan.
B.Perubahan-perubahan Ikan Setelah Ikan Mati
-Hyperaemia
Hyperaemia
merupakan proses terlepasnya lendir dari kelenjar-kelenjar yang ada di dalam
kulit. Proses selanjutnya membentuk lapisan bening yang tebal di sekeliling
tubuh ikan. Pelepasan lendir dari kelenjar lendir, akibat dari reaksi khas
suatu organisme. Lendir tersebut terdiri dari gluko protein dan merupakan
substrat yang baik bagi pertumbuhan bakteri.
-RigorMortis
Seperti terjadi pada daging sapi dan daging hewan lainnya, fase ini ditandai oleh mengejangnya tubuh ikan setelah mati. Kekejangan ini disebabkan alat-alat yang terdapat dalam tubuh ikan yang berkontraksi akibat adanya reaksi kimia yang dipengaruhi atau dikendalikan oleh enzim. Dalam keadaan seperti ini, ikan masih dikatakan sebagai segar.
Seperti terjadi pada daging sapi dan daging hewan lainnya, fase ini ditandai oleh mengejangnya tubuh ikan setelah mati. Kekejangan ini disebabkan alat-alat yang terdapat dalam tubuh ikan yang berkontraksi akibat adanya reaksi kimia yang dipengaruhi atau dikendalikan oleh enzim. Dalam keadaan seperti ini, ikan masih dikatakan sebagai segar.
-Autolysis
Fase ini terjadi setelah terjadinya fase rigor mortis. Pada fase ini ditandai ikan menjadi lemas kembali. Lembeknya daging Ikan disebabkan aktivitas enzim yang semakin meningkat sehingga terjadi pemecahan daging ikan yang selanjutnya menghasilkan substansi yang baik bagi pertumbuhan bakteri.
Fase ini terjadi setelah terjadinya fase rigor mortis. Pada fase ini ditandai ikan menjadi lemas kembali. Lembeknya daging Ikan disebabkan aktivitas enzim yang semakin meningkat sehingga terjadi pemecahan daging ikan yang selanjutnya menghasilkan substansi yang baik bagi pertumbuhan bakteri.
- Bacterial decomposition (dekomposisi oleh bakteri)
Pada fase ini bakteri terdapat dalam jumlah yang banyak
sekali, sebagai akibat fase sebelumnya. Aksi bakteri ini mula-mula hampir
bersamaan dengan autolysis, dan kemudian berjalan sejajar.
Bakteri menyebabkan ikan lebih rusak lagi, bila dibandingkan
dengan autolisis. Bakteri adalah jasad renik yang sangat kecil sekali, hanya
dapat dilihat dengan mikroskop yang sangat kuat dan tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang. Jenis-jenis bakteri tersebut adalah: Pseudomonas, Proteus
Achromobacter, Terratia, dan Elostridium.
Selama ikan masih dalam keadaan segar, bakteri-bakteri
tersebut tidak mengganggu. Akan tetapi jika ikan mati, suhu badan ikan menjadi
naik, mengakibatkan bakteri-bakteri tersebut segera menyerang. Segera terjadi
pengrusakan jaringan-jaringan tubuh ikan, sehingga lama kelamaan akan terjadi
perubahan komposisi daging. Mengakibatkan ikan menjadi busuk. Bagian-bagian
tubuh ikan yang sering menjadi terget serangan bakteri adalah :
- Seluruh permukaan tubuh,
- Isi perut,
- Insang.
Beberapa hal yang menyebabkan ikan mudah diserang oleh bakteri adalah sebagai berikut:
- Ikan segar dan kerang-kerangan mengandung lebih banyak cairan dan sedikit lemak, jika dibanding dengan jenis daging lainnya. Akibatnya bakteri lebih mudah berkembang biak.
- Struktur daging ikan dan kerang-kerangan tidak begitu sempurna susunannya, dibandingkan jenis daging lainnya. Kondisi ini memudahkan terjadinya penguraian bakteri.
- Sesudah terjadi peristiwa rigor, ikan segar dan kerang-kerangan mudah bersifat alkaline/basa. Kondisi Ini memberikan lingkungan yang sesuai bagi bakteri untuk berkembang biak.
C.
Penurunan mutu ikan oleh pengaruh fisik
Penurunan
mutu ikan juga dapat terjadi oleh pengaruh fisik. Misal kerusakan oleh alat
tangkap waktu ikan berada di dek, di atas kapal dan selama ikan disimpan di
palka. Kerusakan yang dialami ikan secara fisik ini disebabkan karena
penanganan yang kurang baik. Sehingga menyebabkan luka-luka pada badan ikan dan
ikan menjadi lembek.
Hal-hal
ini dapat disebabkan karena:
- Ikan berada dalam jaring terlalu lama, misal dalam jaring trawl, penarikan trawl terlalu lama. Kondisi ini dapat menyebabkan kepala atau ekor menjadi luka atau patah.
- Pemakian ganco atau sekop terlalu kasar, sehingga melukai badan ikan dan ikan dapat mengalami pendarahan.
- Penyimpanan dalam palka terlalu lama.
- Penanganan yang ceroboh sewaktu penyiangan, mengambil ikan dari jaring, sewaktu memasukkan ikan dalam palka, dan membongkar ikan dari palka.
- Daging ikan juga akan lebih cepat menjadi lembek, bila kena sinar matahari.
D. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penurunan Mutu Ikan
Cara Penangkapan
Ikan
yang ditangkap dengan alat trawl, pole, line, dan sebaginya akan lebih baik
keadaannya bila dibandingkan dengan yang ditangkap menggunakan ill-net dan
long-line. Hal ini dikarenakan pada alat-alat yang pertama, ikan yang
tertangkap segera ditarik di atas dek, sedangkan pada alat-alat yang kedua ikan
yang tertangkap dan mati dibiarkan terendam agak lama di dalam air. Kondisi ini
menyebabkan keadaan ikan sudah tidak segar sewaktu dinaikkan ke atas dek.
Reaksi Ikan Menghadapi Kematian
Ikan
yang dalam hidupnya bergerak cepat,
contoh tongkol, tenggiri, cucut, dan lain-lain,
biasanya meronta keras bila terkena alat tangkap. Akibatnya banyak kehilangan
tenaga, cepat mati, rigor mortis cepat terjadi dan cepat pula berakhir. Kondisi
ini menyebabkan ikan cepat membusuk.
Berbeda
dengan ikan bawal, ikan jenis ini tidak banyak memberi reaksi terhadap alat
tangkap, bahkan kadang-kadang ia masih hidup ketika dinaikkan ke atas dek. Jadi
masih mempunyai banyak simpanan tenaga. Akibatnya ikan lama memasuki rigor mortis
dan lama pula dalam kondisi ini. Hal ini menyebabkan pembusukan berlangsung
lambat.
Jenis
dan Ukuran Ikan
Kecepatan
pembusukan berbeda pada tiap jenis ikan, karena perbedaan komposisi kimia ikan.
Ikan-ikan yang kecil membusuk lebih cepat dari pada ikan yang lebih besar.
Keadaan
Fisik Sebelum Mati
Ikan
dengan kondisi fisik lemah, misal ikan yang sakit, lapar atau habis bertelur
lebih cepat membusuk.
Keadaan
Cuaca
Keadaan
udara yang panas berawan atau hujan, laut yang banyak bergelombang, mempercepat
pembusukan.
BAB
III
3.1
Penutup makalah
Kesimpulan
dari makalah ini yaitu untuk mengatasi penurunan mutu ikan (setelah ikan mati)
dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan cara pengawetan dan pengolahan.
Beberapa
tips menangani ikan segar :
ü Usahakan
agar suhu ikan tetap rendah mendekati 0oc, tetap menggunakan es
curah.
ü Jangan
menggunakan tempat/wadah yang dapat mencemari ikan, agar tidak merubah rasa dan
bau.
ü Buang
sumber-sumber berkembangnya bakteri dalam tubuh ikan terutama inasng dan isi
perut.
Beberapa
tips Menyimpan Ikan segar :
ü Buang
sisik , Insang dan isi perut ikan.
ü Cuci
bersih dan letakkan dalam wadah atau bungkus dengan plastik makanan sesuai
kebutuhan.
ü Simpan
/ masukkan pada lemari es dalam suhu 0-50c
ü Jika
akan digunakan, maka keluarkan ikan dari lemari es kemudin lelehkan (thawing)
ü Usahakan
menggunakan ikan dengan cara FIFO (first in first out) artinya ikan yang
disimpan lebih dahulu / lama maka sebaiknya digunakan lebih dahulu.
Comments
Post a Comment